Tampilkan postingan dengan label Globalisasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Globalisasi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 Desember 2015

Duhhhh , Selfie Lagiiii ????

Penulis: Akh Hamdani Aboe Syuja’

Ok sobat muda…

Sudah bukan hal yang tabu lagi jika kita mendengar kata SELFIE. Fenomena selfie yang sedang merebak pada saat ini sungguh sangat disayangkan, terutama pada sebagian sobat muda Indonesia. Bagaimana tidak, dimana-mana selfie. Saat haji atau umroh misalnya, lagi thawaf di depan ka’bah selfie, saat sa’i di bukit shafa dan marwa selfie, bahkan tak ketinggalan setiap rukun haji ia selfie, sampai pun saat tahallul selfie, yang lebih parah kalo ada yang shelfie saat lagi sholat… (duuuh). Seakan selfie itu sudah berubah wujud menjadi rukun islam yang ke enam… astargfirullh.
Nah, katanya sih ingin mengabadikan momen-momen yang mungkin tak akan terulang kedua kalinya.

Saat ini, dari anak-anak sampai orang tua, dari para murid sampai dengan gurunya, dari tukang bakso kaki lima sampai pengusaha sukses besar baik laki-laki maupun wanita tak luput dari yang namanya selfie. Duuuhhh kasian deh kawula muda kita…

Guys, Kalo kamu coba serch di google pengertian selfie, maka akan muncul salah satu pengertian selfie adalah sebagai berikut…

Selfie secara harafiah seringkali diartikan sebagai aktivitas memotret diri sendiri atau narsisme. jika ditelusuri lebih dalam pengertian ‘Selfie’ menurut referensi pustakawan Britania adalah “sebuah pengambilan foto diri sendiri melalui smartphone atau webcam yang kemudian diunggah ke situs web media sosial.” Sedikit banyak, layanan berbagi foto Instagram cukup berperan besar dalam mempromosikan istilah ‘Selfie’ sebagai kata kerja. Padahal menurut penelitian tim Oxford, frase itu mulai digaungkan di dunia online pada awal 2002 lalu dalam sebuah forum MySpace dan Flickr.

Yap,.. Namun yang menjadi pokok pembahasan kita saat ini bukanlah tentang sejarah selfie, siapakah yang paling banyak melakukan selfie cewek apa cowok atau macam-macam selfie kawula muda saat ini. Tapi, bagaimana kacamata syariat dalam memandang masalah ini?

Ok, mungkin ada sebagian sobat yang ngoceh “Dikit2 syariat, kapan majunya?”. Nah, ini nih yang perlu direvisi kembali pemahamannya tentang syariat.

SELFI jalan menuju SYIRIK kecil?


Sebagai sobat muslim, sebelum bergerak untuk melakukan segala aktifitasnya tentu akan mempertimbangkan setiap resiko yang akan ia dapatkan dari perbuatannya. Untuk apa melakukan selfie? Dan apa yang akan di dapatkan dari selfi, mudhorot atau manfaatkah?
Selfie yang sering dilakukan oleh sobat muda ini, adalah wasilah menuju riya’ dan takabbur. Coba bayangkan jika ia melakukan selfie seperti yang penulis gambarkan pada prolog di awal paragraf, apa jadinya? Tentu riya’ dan lebih tinggi lagi akan menjadikan pelakunya terjerumus kedalam lubang takabbur, yang seharusnya seorang muslim jauh dari kedua penyakit ini, karena keduanya dapat menghancurkan pelakuknya dan juga amal-amalnya.

Sobat muda… Apabila kita berfoto selfie lalu takjub dengan hasil foto itu, bahkan mencari-cari pose terbaik dengan foto itu, lalu mengagumi hasilnya, mengagumi diri sendiri, maka khawatir itu termasuk UJUB.

Apabila kita berfoto selfie lalu mengunggah di media sosial, lalu berharap ianya di-komen, di-like, di-view atau apalah, bahkan kita merasa senang ketika mendapatkan apresiasi, lalu ber-selfie ria dengan alasan ingin mengunggahnya sehingga jadi semisal seleb, maka kita masuk dalam perangkap RIYA.

Apabila kita berfoto selfie, lalu dengannya kita membanding-bandingkan dengan orang lainnya, merasa lebih baik dari yang lain karenanya, merasa lebih hebat karenanya, jatuhlah kita pada hal yang paling buruk yaitu TAKABBUR.

Jadi, kesimpulannya SELFIE jalan menuju syirik kecil. Karena ujub, riya’ dan takabbur adalah sebagian dari syirik kecil. Sebagimana yang disinyalir dalam sebuah hadist Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam..


Padahal Rasululullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah menjelaskan kepada kita akan dosa-dosa yang dapat membinasakan ummat ini, dan salah satu diantaranya penyakit hati diatas. UJUB. 

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda melalui jalur Anas bin Malik..,

ثَلَاثٌ مُهْلِكَاتٌ : شُحٌّ مُطَاعٌ ، وَهَوًى مُتَّبَعٌ ، وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ

“Tiga dosa pembinasa: sifat pelit yang ditaati, hawa nafsu yang dituruti, dan ujub seseorang terhadap dirinya.” (HR. Thabrani dalam al-Ausath 5452 dan dishaihkan al-Albani)
Padahal kita tau bahwa amalan yang paling disukai oleh Allah adalah yang tersembunyi, kalo di ibaratkan seseorang yang berinfaq dengan tangan kanannya niscaya tangan kirinya tidak akan mengetahuinya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda melalui jalur Abu Sa’id al-Khudri,

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْعَبْدَ التَّقِىَّ الْغَنِىَّ الْخَفِىَّ

“Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertaqwa, yang berkecukupan, dan yang tidak menonjolkan diri.” (HR. Muslim 7621).
Selfie, jeprat-jepret diri sendiri, sangat tidak sejalan dengan prinsip di atas. Terlebih umumnya orang yang melakukan selfie, tidak lepas dari perasaan ujub. Meskipun tidak semua orang yang selfie itu ujub, namun terkadang perasaan lebih sulit dikendalikan.

Terakhir…

Sadarlah wahai saudaraku… Umat islam saat ini terutama kawula mudanya sedang di BIUS oleh orang-orang yang tidak suka dengan islam, dalam kurung ‘orang-orang kafir’. Mereka terus memperbanyak dosis biusnya sampai kita tidak sadarkan diri. Nina bobo lah kata mereka, bagaikan sedang menidurkan anak kecil dalam ayunan..

BIUS itu sudah merasuki setiap jiwa sobat muslim. Saya khawatir jika sewaktu-waktu orang yang berniat jahat tersebut ingin menghancurkan kita, betapa mudahnya bagi mereka…
BIUS itu adalah alat-alat elektronik yang kita pake, kecanggihan teknologi, game-game online, dan segala kemudahan yang kita semua terlena karenanya…

Sadarlah wahai saudaraku… Tinggalkan hal-hal yang tidak dan kurang bermanfaat tersebut, atau meminimalkan dalam pemakaiannya dan kembali berbenah untuk melakukan hal-hal yang lebih banyak manfaatnya. SELFIE salah satu bius yang diciptakan oleh mereka…
Wallahu a’lam bisshowab.

Sumber: Majalah elfata, edisi 11, th 2015.

Rabu, 18 November 2015

King Suleiman ANTV, Pemalsuan Sejarah

Mohon tanggapan untuk sinetron King Suleiman di ANTV yang bnyak meresahkan kaum muslimin. Trim’s

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Keberadaan berbagai macam sinetron yang ditayangkan di televisi, memberikan pelajaran bagi kita akan pentingnya pendidikan sejarah dalam kehidupan manusia. Untuk melihat masa depan, seseorang perlu memahami masa lalunya. Al-Qur’an sendiri banyak memuat berbagai cerita umat terdahulu, agar umat Islam dapat mengambil hikmah dan pelajarannya untuk menghadapi hari depan.

Tidak heran jika setiap bangsa senantiasa merumuskan sejarah masa lalunya. Sejarah berperan sangat penting yang mengarahkan kebangkitan suatu bangsa atau peradaban.

Muhammad Asad (Leopold Weiss) dalam bukunya, Islam at the Crossroads, menulis,
No civilization can prosper – or even exist, after having lost this pride and the connection with it’s own past…

“Tidak ada peradaban yang berjaya, bahkan bisa eksis, setelah mereka kehilangan kebanggaan dan keterkaitan dengan masa lalunya.”

Karenanya, telah menjadi salah satu konspirasi orang kafir, mereka berusaha mengaburkan sejarah kaum muslimin. Melalui pemalsuan sejarah, orang kafir berusaha melakukan upaya balas dendam terhadap para tokoh islam yang tidak mampu mereka lawan. Mereka juga mengarahkan umat untuk mengagungkan tokoh fiktif dari pada pahlawan umat yang sejatinya.

Siapa King Suleiman?

Beliau adalah Sulaiman bin Salim al-Qanuni. Orang barat mengenalnya dengan Sulaiman al-Adzim (The Great Sulaiman). Beliau menjabat khalifah selama 48 tahun, sejak 926 H. Tercatat beliau sebagai raja Daulah Utsmani yang paling lama menjadi khalifah.

King Sulaiman merupakan salah satu raja Daulah Utsmaniyah yang paling disegani dunia barat. Dikenal sangat mahir dalam bidang politik dan ketatanegaraan. Beliau mengembalikan keutuhan Daulah Utsmaniyah yang diambang perpecahan. Diantaranya, beliau menggagalkan pemberontakan yang dilakukan orang-orang syiah dibawah pimpinan Qilnadar Jalbi, yang memiliki kekuatan sekitar 30.000 pengikut.

Jihad King Suleiman

Beliau dikenal sebagai raja yang paling sering jihad selama masa kepemimpinan Daulah Utsmaniyah. Diantara keistimewaan beliau, setiap kali mengirim surat ke berbagai daerah, beliau meniru gaya Nabi Sulaiman ketika mengirim surat ke negeri Ratu Saba (Ratu Bilqis), yang Allah ceritakan di surat an-Naml,

إِنَّهُ مِنْ سُلَيْمَانَ وَإِنَّهُ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

“Ini dari Sulaiman, Isinya: Bismillahirrahmanirrahiim.” (QS. an-Naml: 30).
Dengan intensitas ekspansi ke daerah kafir yang tinggi, hingga di tahun 927 H, kaum muslimin berhasil menaklukkan Beograd (ibu kota Serbia). Padahal ketika itu, Beograd dikenal sebagai pintu eropa tengah dan benteng masihiyin (kristiani). Beliau juga sempat mengepung Wina (Austria), dan memasukkan wilayah Budapest (Hongaria) ke kawasan Utsmani.

Beliau juga melakukan tekanan terhadap negeri Syiah, Daulah Shafawiyah (Iran). Beliau melakukan penyerangan 3 kali, dari tahun 941 hingga 962 H. Dari usaha ini, beliau banyak mengembalikan wilayah kaum muslimin dari penindasan orang Syiah. Sehingga di masa King Sulaiman, orang syiah dalam posisi sangat tertekan.

Semua upaya yang beliau lakukan merupakan proye besar untuk mengembalikan kejayaan kaum muslimin. Di samping itu, beliau berhasil mengusir Portugis dari wilayah perairan laut merah, dan menghentikan gerakan orang kafir yang sangat ambisius untuk menguasai timur tengah.

Peran Ulama dalam Menetapkan Hukum

Diantara faktor pendukung kejayaan kekhalifahan Daulah Utsmaniyah di masa beliau, posisi rakyat yang sangat loyal terhadap negara. Karena di masa beliau, perumusan undang-undang negara diserahkan kepada para ulama. Undang-udang itu dikenal dengan nama: Qanun Sulaiman Namah (Undang-undang Sulthan Sulaiman).

 Salah satu ulama yang memberikan pengaruh besar terhadap pembentukan undang-undang ketika itu adalah Imam Abu Su’ud Afandi. Seorang ulama ahli bahasa, ahli tafsir, peneliti, penulis kitab Tafsir Irsyad al-Aql as-Salim ila Mazaya al-Kitab al-Karim, atau yang sering dikenal dengan tafsir Abu Su’ud. Tafsir ini tebalnya 9 jilid, banyak menjelaskan sisi keistimewaan bahasa dan logika yang diajarkan al-Quran.

Prof. Jamaluddin Falih al-Kilani – peneliti sejarah asal Iraq – menegaskan, masa kekhalifahan Sultan Sulaiman al-Qanuni dinilai sebagai masa keemasan Daulah Utsmaniyah. Mengingat Daulah Utsmaniyah dianggap sebagai kejaraan terkuat di dunia, terutama sepanjang kawasan laut tengah.

Ketika beliau diangkat menjadi khalifah, ada salah satu penyair yang mengatkan,

قل للشياطين البغاة اخسأوا *** قد أوتى المُلك سليمانُ

Sampaikan kepada setan pemberontak, “Mampus kalian..”
Kerajaan telah diserahkan kepada Sulaiman.
(Disadur dari tulisan: as-Sulthan Sulaiman al-Qonuni, karya Dr. Raghib as-Sirjani).

Karena itu tidak heran ketika barat merasa belum tenang jika mereka belum melakukan balas dendam terhadap King Sulaiman. Jika jasadnya tidak bisa mereka sentuh, kehormatan beliau yang menjadi sasarannya. Stasiun TV swasta yang doyan harta-wanita, menjadi corong mereka untuk menyebarkan kedustaan sejarah itu.

Semoga Allah melindungi kaum muslimin dari kejahatan mereka.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Foto untuk Ta’aruf

Tanya:

Bolehkah saat proses ta’aruf (mengenal lebih dalam tentang lelaki/wanita yang mungkin akan menjadi calon suami/istri –pen) kedua ikhwan dan akhwat saling bertukar foto, yang tujuannya adalah untuk mengenali wajah calon dan memantapkan pilihan?
 
(Pertanyaan dilontarkan dalam sesi tanya jawab kajian “Sejak Memilih, Meminang Hingga Menikah” bersama Ustadz Muflih Safitra di Masjid Namirah, Balikpapan).

Jawab:

Segala puji hanya untuk Allah, Rabb semesta alam, shalawat dan salam semoga tercurah bagi Muhammad Rasulillah, para sahabat dan pengikutnya.

Tidak boleh ikhwan dan akhwat yang ingin ta’aruf bertukar foto walaupun tujuannya untuk lebih memantapkan pilihan. Hal ini dikarenakan beberapa alasan:

Memandangi wajah lawan jenis yang bukan mahram secara sengaja dan berulang kali adalah haram dan merupakan jalan menuju keburukan lain akibat pandangan dan hawa nafsu.

Allah berfirman,

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, hendaklah mereka menundukkan pandangannya dan menjaga kemaluannya.” (QS. An-Nuur: 30)

“Katakanlah kepada wanita yang beriman, hendaklah mereka menundukkan pandangannya dan menjaga kemaluannya.” (QS. An-Nuur: 31)

Foto di zaman ini sarat penipuan dan rekayasa, apalagi setelah banyak muncul aplikasi komputer dan bahkan di HP jenis smart phone yang bisa mengubah (mengedit) wajah asli menjadi lebih cantik atau ganteng, wajah kasar menjadi halus, wajah tua menjadi muda, dengan hanya sentuhan jari.

Ketika foto jatuh di tangan lawan jenis –khususnya foto akhwat jatuh di tangan lelaki– sangat memungkinkan disalahgunakan, seperti ditaruh di dompet, diupload di media sosial (untuk dipamerkan) dan bahkan dijadikan bahan memuaskan hawa nafsu. Penulis pernah memergoki seorang ikhwan tidur terlentang dan tersenyum-senyum sambil memandangi foto akhwat yang jadi lawan ta’arufnya. Ternyata pun si akhwat tidak jadi menikah dengannya.

Foto tidak mampu merepresentasikan wajah atau bentuk asli dari si calon suami/istri secara akurat.
 Bisa jadi di foto si akhwat terlihat kecil, padahal aslinya gemuk besar. Sementara itu si ikhwan ternyata laki-laki yang sangat kurus. Bisa jadi pula di foto terlihat cantik atau ganteng dan ternyata aslinya tidak seperti itu.

Karenanya kami nasehatkan terutama kepada para akhwat, untuk jangan sekali-kali menyerahkan foto kepada orang yang bukan mahram, sekalipun itu calon pasangan hidup, yang belum tentu juga menikah dengan antum. Ini dalam rangka mencegah kerusakan dan fitnah syahwat yang timbul karena godaan setan, dimulai dari memandangi lawan jenis dengan media yang tidak dihalalkan.

Jika memang serius ingin menikah, maka cukup dengan biodata awal yang detail. Jika berdasarkan biodata ta’aruf bisa dilanjutkan, maka si ikhwan bisa datang langsung, misalnya kepada orang tua si akhwat untuk membicarakan hal-hal lain secara mendalam. Jika saat ta’aruf lanjutan dirasa cocok, maka bisa diteruskan dengan nazhar (melihat langsung calon pasangan). Saat itulah pandangan terhadap calon dihalalkan.

Wallahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Muflih Safitra bin Muhammad Saad Aly | Balikpapan

Awas ! Ada Makanan Setan .....

Apa hukum memberi nama makanan dengan kata ‘setan’, sepeti bakso setan atau krupuk setan.. yg sekarang lagi marak.

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Dalam banyak ayat, Allah menegaskan bahwa setan adalah musuh yang nyata bagi manusia.

Diantaranya, Allah berfirman,

وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

“Janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan, sesungguhnya dia, musuh yang nyata bagi kalian.” (QS. al-Baqarah: 168).

Dan sikap yang benar terhadap musuh adalah berusaha melawannya, melakukan perbuatan yang membuatnya sedih, dan menjauhinya. Bukan sebaliknya, justru mendekatinya.

Memberi nama makanan halal dengan ‘setan’

Dalam al-Quran, Allah sebut makanan yang halal dengan thayyibat.

Allah berfirman, menceritakan sifat syariat Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam,

وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ

“Beliau menghalalkan yang thayyibat untuk mereka, dan beliau mengharamkan al-Khabaits.” (QS. al-A’raf: 157)

Thayib secara bahasa artinya baik. Khabaits, bentuk jamak dari khabits, yang artinya sesuatu yang menjijikkan. Semua yang halal adalah thayyib, dan  adalah, dan semua yang haram adalah Khabits.
Artinya, Allah memberikan nama yang baik untuk yang halal dan Allah memberikan nama yang buruk untuk sesuatu yang haram.

Karena, memberi nama yang baik untuk sesuatu yang baik, dan memberi nama yang buruk untuk sesuatu yang buruk, bagian dari mengikuti petunjuk Allah. Sebaliknya memberi nama yang buruk untuk sesuatu yang Allah halalkan, bisa termasuk menghinakan rizki yang Allah berikan.

Dalam Fatwa Islam dinyatakan,

إطلاق أسماء الأشياء التي يبغضها الله تعالى على الأشياء التي أباحها ؛ فهو فعل يحتوي على استهانة بشرع الله تعالى وعدم التعظيم لأحكامه ، وهذا مناف لتقوى الله تعالى


Menyebut sesuatu yang Allah halalkan dengan menggunakan istilah sesuatu yang Allah benci, perbuatan semacam ini termasuk meremehkan aturan Allah dan tidak mengagungkan hukum-hukum-Nya. Dan ini bertentangan dengan sikap taqwa kepada Allah. (Fatwa Islam, no. 234755).

Dengan pertimbangan ini, tidak selayaknya memberi makanan yang baik, yang halal, dengan nama yang buruk. Bakso setan, krupuk setan, mie ayam setan, pecel setan, dst. Benar, tujuannya untuk menggambarkan betapa pedasnya makanan itu, tapi hindari nama musuh bersama ini.

Makanan yang halal, minuman yang halal adalah rizki dari Allah. Selayaknya dimuliakan dan dihormati.

Allahu a’lam. 

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Selasa, 17 November 2015

Komentar Untuk Kejadian Paris

Mohon nasehat untuk kejadian penembakan di Paris.. apakah pelakunya benar ISIS? Bagaimana islam menjawab kejadian semacam ini?

Jawab:

 Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Sebenarnya yang layak memberi komentar untuk kasus semacam ini adalah ulama kelas dunia. Karena mereka yang lebih memahami ‘fiqh waqi’ dan kesimpulan nasehat dari al-Quran dan sunah.
Hanya saja, ada beberapa catatan yang bisa kita jadikan sebagai sikap awal dalam memahami tragedi semacam ini,

Pertama, bahwa islam berlepas diri semua tindakan kriminal dan kedzaliman yang dilakukan oleh kaum muslimin. Dan sebenarnya seluruh masyarakat sepakat bahwa agama tidak disalahkan, karena tindak kriminal yang dilakukan penganutnya.

Dulu ketika Timothy McVeigh melakukan pengeboman di Gedung Federal Alfred, Oklahoma City, tidak kita jumpai ada orang yang menyudutkan agamanya. Timothy ketika itu beragama Katolik. Dan tidak pernah kita dengar ada orang yang menyalahkan Paus vatikan, gara-gara ulah penganutnya. Padahal tindakan satu orang katholik ini telah menewaskan ratusan pengunjung di Mall itu.
Ketika orang Myanmar membabi buta membakar kaum muslimin, sampai mengusir mereka dari Rohingya, dunia rasanya tidak ada yang menyudutkan agama pelakunya. Mereka beragama Budha. Bahkan para biksu budha-pun turut melakukan tindak anti-kemanusiaan itu.

Tidak ada agama yang bisa lepas dari keberadaan penganutnya, yang melakukan tindak kriminal. Baik dengan alasan doktrin agamanya atau alasan pribadi. Namun itu semua sifatnnya subjektif.
Sebagaimana ini ketika terjadi pada kaum muslimin, pengakuan pelaku bahwa itu doktrin agama, sifatnya ijtihad pribadi, yang belum tentu dibenarkan dalam agama.

Kedua, semua orang butuh damai, bisa hidup nyaman, sehingga bisa melakukan banyak aktivitas tanpa gangguan. Bahkan islam banyak menekankan kepada umatnya tentang arti penting  nikmat aman. Hingga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan bahwa nikmat aman merupakan salah satu nikmat yang jika dimiliki seseorang maka dia seperti memiliki dunia seisinya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ مُعَافًى فِى جَسَدِهِ آمِنًا فِى سِرْبِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا

Siapa yang di pagi hari dalam kondisi sehat jasadnya, aman di tempat tinggalnya, dan dia memiliki makanan di hari itu, seolah dibentangkan untuknya dunia. (HR. Turmudzi 2517, Ibn Majah 4280 dan dishahihkan al-Albani).

Karena itu, anggapan sebagian non muslim yang sangat apriori terhadap islam, seperti pernyataan bahwa muslim adalah model manusia suka konflik, ini jelas pemahaman yang salah besar. Islam mengajarkan kedamaian, diturunkan oleh Allah sebagai rahmat, memperbaiki manusia dan bukan untuk merusak manusia.

Ketiga, kedepankan sikap hati-hati dan jangan mudah terprovokasi dengan berita yang bersliweran. Terutama berita dari media liberal. Mereka secara sengaja terkadang sangat menyudutkan islam dengan alasan kemanusiaan. Karena mareka gagal paham, tidak bisa membedakan antara ajaran agama dengan tindakan penganut agama.

Allah telah memberikan bimbingan, agar kita tidak mudah percaya dengan berita dari model manusia penyebar berita. Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang Fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. al-Hujurat: 6)

Semua berita, sangat sarat dengan tendensi ideologi dan opini. Karena itu, menelan mentah-mentah sebuah informasi dari media massa adalah sebuah kesalahan besar, sehingga terjadilah seperti yang Allah firmankan, ’menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu’.

Keempat, ada informasi mengenai pengakuan ISIS bahwa mereka bertanggung jawab untuk kejadian Paris. Kita tidak tahu pasti apakah pengakuan mereka itu benar ataukah karena karakter mereka yang suka memancing kehadiran musuh. Hingga kini, kita belum mendapatkan informasi yang valid mengenai latar belakang pelaku.

Terlepas dari hal itu, kita sangat menyayangkan sikap ISIS. Bagi orang yang paham, doktrin ISIS sama sekali tidak ada hubungannya dengan islam. Sekalipun mereka menggunakan nama islam.

Hanya saja, pengakuan ISIS bisa menjadi alasan bagi orang yang apriori untuk semakin menyudutkan islam.

Karena itu, para ulama menganggap bahwa isis semakin memperparah luka yang dialami kaum muslimin. Hingga Dr. Soleh as-Suhaimi menyampaikan ceramah bertajuk,

داعش تخدم أعداء الإسلام

“ISIS, merekalah pelayan para musuh islam.”

Karena ulah ISIS, para musuh islam memiliki alasan untuk mengobok-obok negeri islam.
 
 Kelima, perbanyak berdoa, memohon kepada Allah perlindungan dari fitnah.

Memilih sikap diam, tidak komentar, tidak responsif terhadap fitnah, dan menyerahkannya kepada orang yang lebih berilmu, itu yang dianjurkan.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

سَتَكُونُ فِتَنٌ الْقَاعِدُ فِيهَا خَيْرٌ مِنَ الْقَائِمِ ، وَالْقَائِمُ فِيهَا خَيْرٌ مِنَ الْمَاشِى ، وَالْمَاشِى فِيهَا خَيْرٌ مِنَ السَّاعِى ، مَنْ تَشَرَّفَ لَهَا تَسْتَشْرِفْهُ ، فَمَنْ وَجَدَ فِيهَا مَلْجَأً أَوْ مَعَاذًا فَلْيَعُذْ بِه

Akan terjadi fitnah, orang yang duduk lebih baik daripada yang berdiri, orang yang berdiri lebih baik daripada yang berjalan, orang yang berjalan lebih baik daripada yang berlari, barangsiapa yang mencari fitnah maka dia akan terkena pahitnya dan barangsiapa yang menjumpai tempat berlindung maka hendaknya dia berlindung. (HR. Bukhori 3601 dan Muslim 2776)

Diantara doa yang bisa kita rutinkan adalah doa perlindungan fitnah,

اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَتَرْكَ الْمُنْكَرَاتِ وَحُبَّ الْمَسَاكِينِ وَإِذَا أَرَدْتَ بِعِبَادِكَ فِتْنَةً فَاقْبِضْنِى إِلَيْكَ غَيْرَ مَفْتُونٍ

Ya Allah, aku memohon kepada-Mu taufiq untuk bisa mengamalkan semua kebaikan, meninggalkan semua kemungkaran, dan bisa mencintai orang miskin. Jika Engkau menghendaki untuk menimpakan ujian (fitnah) bagi hamba-hamba-Mu, maka wafatkanlah aku, tanpa terkena fitnah itu

Allahu a’lam.

 Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Selasa, 10 November 2015

Akun Facebook Setelah Kita Meninggal

Pertanyaan:


Assalamu’alaikum

Konsekwensi apakah yang akan kita terima di akhirat kelak jika akun faceook atau twitter kita berisi dengan berbagi cerita macam-macam dengan foto-foto yang cantik dan tampan. Kadang kita juga menuangkan status-status yang mungkin menggambarkan kondisi kita pada saat iman kuat (mengingatkan hal-hal yang baik) atau iman lemah (mengeluh, mengumpat, dsb.). Apakah pahala dan dosa kita akan terus bertambah? Wassalam

Dari: Chriestian Ywss

Jawaban:

 
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah

Allah berfirman dalam surat Yasin,

إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ


Sesungguhnya Kami yang menghidupkan orang mati, Kami catat semua yang telah mereka lakukan dan dampaknya. Dan semuanya kami kumpulkan dalam kitab (catatan amal) yang nyata.” (QS. Yasin: 12)

Kita bisa memperhatikan, sesungguhnya Allah tidak hanya mencatat amal perbuatan yang kita lakukan, namun Allah juga mencatat semua pengaruh dari perilaku dan perbuatan kita.
Dinyatakan dalam hadis dari sahabat Jarir bin Abdillah, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً، فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ، كُتِبَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا، وَلَا يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ، وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً، فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ، كُتِبَ عَلَيْهِ مِثْلُ وِزْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا، وَلَا يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ


Siapa yang menghidupkan sunah yang baik dalam Islam, kemudian diikuti oleh orang lain setelahnya maka dicatat untuknya mendapatkan pahala seperti orang yang mengamalkannya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Siapa yang menghidupkan tradisi yang jelek di tengah kaum muslimin, kemudian diikuti oleh orang lain setelahnya, maka dia mendapatkan dosa sebagaimana dosa orang yang melakukannya tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.” (HR. Muslim, Ibn Majah, Ad-Darimi dan yang lainnya)

Semua dalil di atas selayaknya memberikan motivasi bagi kita untuk semangat dalam menyebarkan ilmu dan kebaikan serta merasa takut ketika melakukan perbuatan atau menyebarkan sesuatu yang mengundang orang lain untuk bermaksiat.

Saat ini kita dimudahkan dengan berbagai macam fasilitas. Namun, itu hanya instrumen. Hukum asal instrumen ini adalah netral, atau dengan bahasa yang lebih tegas, mubah. Kitalah yang menentukan kontennya.

Ketika kita menggunakannya untuk menyebarkan kebaikan, menggunakan facebook untuk dakwah Islam, mengajak masyarakat berbuat baik, insya Allah ini menjadi amal mulia. Sampai pun kita mati, selama info baik yang kita sebarkan memberikan pengaruh yang baik di masyarakat, ajakan amal yang kita sampaikan dikerjakan pembacanya, insya Allah ini akan menjadi aliran pahala bagi kita, meskipun kita sudah tiada di alam dunia.

Sebaliknya, orang nakal yang memanfaatkan fasilitas ini untuk kemaksiatan, menyebarkan foto aurat, mengajak orang untuk melakukan dosa dan maksiat, selama masih ada manusia yang bermaksiat dengan sebab info itu, maka orang nakal ini akan mendapatkan aliran dosanya.

Karena itu, jadilah hamba yang cerdas… jangan sia-siakan instrumen yang begitu mudah ini untuk kegiatan yang tidak memberikan nilai bonus bagi kita di saat kita menghadap Allah. Lebih-lebih, justru malah menjadi penyesalan.

Ini di antara rahasia, mengapa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang keras wanita membuka auratnya ketika keluar rumah. Karena maksiat yang dia lakukan mengundang orang lain untuk melakukan maksiat. Dan ini tidak jauh beda dengan para lelaki yang memajang foto aurat wanita di dunia maya, mengajak orang lain untuk turut bermaksiat dan berzina matanya.

Ingat, kendatipun kita telah meninggal, pengaruh dari perbuatan yang kita lakukan tetap dicatat oleh Allah. Tidak bisa kita bayangkan, ketika ada orang yang meng-up load satu gambar “bermasalah” di dunia maya, kemudian di-share oleh orang lain, di-share lagi oleh orang lain, di-share lagi, di-share lagi, dan di-share lagi… betapa banyak mata yang terlibat maksiat gara-gara perbuatan ini.

Termasuk Anda para wanita, jangan bangga dengan aurat Anda. Karena aurat itu aib jika ditampakkan kepada yang bukan haknya. Lalu dengan apa bisa dibanggakan dan dipamerkan. Bukankah semua wanita juga memilikinya. Ingat, jangan sampai foto “bermasalah” Anda jatuh ke tangan “pendekar” berwatak jahat.
 
Allahu a’alam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Bait (Dewan Pembina Konsultasi Syariah)
 
Artikel www.KonsultasiSyariah.com