Mohon nasehat untuk kejadian penembakan di Paris.. apakah pelakunya benar ISIS? Bagaimana islam menjawab kejadian semacam ini?
Jawab:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,
Sebenarnya yang layak memberi komentar untuk kasus semacam ini adalah
ulama kelas dunia. Karena mereka yang lebih memahami ‘fiqh waqi’ dan
kesimpulan nasehat dari al-Quran dan sunah.
Hanya saja, ada beberapa catatan yang bisa kita jadikan sebagai sikap awal dalam memahami tragedi semacam ini,
Pertama, bahwa islam berlepas diri semua
tindakan kriminal dan kedzaliman yang dilakukan oleh kaum muslimin. Dan
sebenarnya seluruh masyarakat sepakat bahwa agama tidak disalahkan,
karena tindak kriminal yang dilakukan penganutnya.
Dulu ketika Timothy McVeigh melakukan pengeboman di Gedung Federal
Alfred, Oklahoma City, tidak kita jumpai ada orang yang menyudutkan
agamanya. Timothy ketika itu beragama Katolik. Dan tidak pernah kita
dengar ada orang yang menyalahkan Paus vatikan, gara-gara ulah
penganutnya. Padahal tindakan satu orang katholik ini telah menewaskan
ratusan pengunjung di Mall itu.
Ketika orang Myanmar membabi buta membakar kaum muslimin, sampai
mengusir mereka dari Rohingya, dunia rasanya tidak ada yang menyudutkan
agama pelakunya. Mereka beragama Budha. Bahkan para biksu budha-pun
turut melakukan tindak anti-kemanusiaan itu.
Tidak ada agama yang bisa lepas dari keberadaan penganutnya, yang
melakukan tindak kriminal. Baik dengan alasan doktrin agamanya atau
alasan pribadi. Namun itu semua sifatnnya subjektif.
Sebagaimana ini ketika terjadi pada kaum muslimin, pengakuan pelaku
bahwa itu doktrin agama, sifatnya ijtihad pribadi, yang belum tentu
dibenarkan dalam agama.
Kedua, semua orang butuh damai, bisa hidup
nyaman, sehingga bisa melakukan banyak aktivitas tanpa gangguan. Bahkan
islam banyak menekankan kepada umatnya tentang arti penting nikmat
aman. Hingga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan bahwa nikmat
aman merupakan salah satu nikmat yang jika dimiliki seseorang maka dia
seperti memiliki dunia seisinya.
Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ مُعَافًى فِى جَسَدِهِ آمِنًا فِى سِرْبِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا
Siapa yang di pagi hari dalam kondisi sehat jasadnya, aman di
tempat tinggalnya, dan dia memiliki makanan di hari itu, seolah
dibentangkan untuknya dunia. (HR. Turmudzi 2517, Ibn Majah 4280 dan dishahihkan al-Albani).
Karena itu, anggapan sebagian non muslim yang sangat apriori terhadap
islam, seperti pernyataan bahwa muslim adalah model manusia suka
konflik, ini jelas pemahaman yang salah besar. Islam mengajarkan
kedamaian, diturunkan oleh Allah sebagai rahmat, memperbaiki manusia dan
bukan untuk merusak manusia.
Ketiga, kedepankan sikap hati-hati dan
jangan mudah terprovokasi dengan berita yang bersliweran. Terutama
berita dari media liberal. Mereka secara sengaja terkadang sangat
menyudutkan islam dengan alasan kemanusiaan. Karena mareka gagal paham,
tidak bisa membedakan antara ajaran agama dengan tindakan penganut
agama.
Allah telah memberikan bimbingan, agar kita tidak mudah percaya
dengan berita dari model manusia penyebar berita. Allah berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ
بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا
عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang Fasik
membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak
menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya
yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. al-Hujurat: 6)
Semua berita, sangat sarat dengan tendensi ideologi dan opini. Karena
itu, menelan mentah-mentah sebuah informasi dari media massa adalah
sebuah kesalahan besar, sehingga terjadilah seperti yang Allah
firmankan, ’menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu’.
Keempat, ada informasi mengenai pengakuan
ISIS bahwa mereka bertanggung jawab untuk kejadian Paris. Kita tidak
tahu pasti apakah pengakuan mereka itu benar ataukah karena karakter
mereka yang suka memancing kehadiran musuh. Hingga kini, kita belum
mendapatkan informasi yang valid mengenai latar belakang pelaku.
Terlepas dari hal itu, kita sangat menyayangkan sikap ISIS. Bagi
orang yang paham, doktrin ISIS sama sekali tidak ada hubungannya dengan
islam. Sekalipun mereka menggunakan nama islam.
Hanya saja, pengakuan ISIS bisa menjadi alasan bagi orang yang apriori untuk semakin menyudutkan islam.
Karena itu, para ulama menganggap bahwa isis semakin memperparah luka
yang dialami kaum muslimin. Hingga Dr. Soleh as-Suhaimi menyampaikan
ceramah bertajuk,
داعش تخدم أعداء الإسلام
“ISIS, merekalah pelayan para musuh islam.”
Karena ulah ISIS, para musuh islam memiliki alasan untuk mengobok-obok negeri islam.
Kelima, perbanyak berdoa, memohon kepada Allah perlindungan dari fitnah.
Memilih sikap diam, tidak komentar, tidak responsif terhadap fitnah,
dan menyerahkannya kepada orang yang lebih berilmu, itu yang dianjurkan.
Dari Abu Hurairah
radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
سَتَكُونُ فِتَنٌ الْقَاعِدُ فِيهَا خَيْرٌ مِنَ
الْقَائِمِ ، وَالْقَائِمُ فِيهَا خَيْرٌ مِنَ الْمَاشِى ، وَالْمَاشِى
فِيهَا خَيْرٌ مِنَ السَّاعِى ، مَنْ تَشَرَّفَ لَهَا تَسْتَشْرِفْهُ ،
فَمَنْ وَجَدَ فِيهَا مَلْجَأً أَوْ مَعَاذًا فَلْيَعُذْ بِه
Akan terjadi fitnah, orang yang duduk lebih baik daripada yang
berdiri, orang yang berdiri lebih baik daripada yang berjalan, orang
yang berjalan lebih baik daripada yang berlari, barangsiapa yang mencari
fitnah maka dia akan terkena pahitnya dan barangsiapa yang menjumpai
tempat berlindung maka hendaknya dia berlindung. (HR. Bukhori 3601 dan Muslim 2776)
Diantara doa yang bisa kita rutinkan adalah doa perlindungan fitnah,
اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ
وَتَرْكَ الْمُنْكَرَاتِ وَحُبَّ الْمَسَاكِينِ وَإِذَا أَرَدْتَ
بِعِبَادِكَ فِتْنَةً فَاقْبِضْنِى إِلَيْكَ غَيْرَ مَفْتُونٍ
Ya Allah, aku memohon kepada-Mu taufiq untuk bisa mengamalkan
semua kebaikan, meninggalkan semua kemungkaran, dan bisa mencintai orang
miskin. Jika Engkau menghendaki untuk menimpakan ujian (fitnah) bagi
hamba-hamba-Mu, maka wafatkanlah aku, tanpa terkena fitnah itu
Allahu a’lam.
Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)